Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dr. Muhammad Hasbi, M.Pd. : Dakwah Lewat Kata, Merawat Bumi dengan Khutbah




Nahdlatul Ulama (NU), sejak berdirinya hingga kini tetap eksis menjadikan dakwah sebagai jalan pengabdian, seiring berjalannya waktu, kini mencuat dakwah yang tidak hanya terucap lantang diatas mimbar, tetapi tulisan menjadi sarana dan gerakan yang nyata di masyarakat. Sebagai organisasi yang mendorong nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah, NU selalu mendukung kadernya untuk berkontribusi dalam berbagai bidang.

Seperti pencapaian Dr. H. Muhammad Hasbi, M. Pd., selaku Wakil Rais Suriyah Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, yang kini membuktikan bahwa menulis adalah jalan dakwah yang tak kalah pentingnya. Prestasinya sebagai juara Harapan 1 tingkat nasional pada lomba Menulis Khutbah Jumat yang digelar oleh Majlis Hukama Muslimin (MHM) dalam rangka memperingati Hari Internasional Persaudaraan Manusia bukan sekedar kebanggaan atas pribadinya, tetapi refleksi dari dedikasinya dalam memperkaya literasi keislaman di lingkungan NU.

Jejak Ilmiah dan Semangat Menulis

Dr. Muhammad Hasbi, M.Pd., atau lebih akrapnya H. Hasbi bukan lagi nama asing dalam dunia akademik. Gelar doktor yang disandangnya tidak hanya sebagai pencapaian akademiknya saja, namun hasil dari perjalanan panjang menempuh ilmu agama. Sebagai dosen di Universitas Annuqayah (UA) Guluk-guluk, Sumenep, tak jarang ia memotivasi mahasiswanya untuk tidak hanya mengetahui dan memahami ilmu, tetapi juga menuliskannya agar dapat abadi dan memberikan manfaat di kemudian hari.

"Saya memang suka menulis sejak mahasiswa S1 di Yogyakarta. Bahkan, skripsi saya dulu mendapat beasiswa dari Kompas," kenangnya.

Lomba menulis ini menarik perhatian minatnya, karena tema yang diusung adalah tenang pemeliharaan lingkungan. Menurutnya, isu itu juga telah lama menjadi perhatian besar dalam dirinya, maka tidak heran jika dalam dua hari terakhir menjelang penutupan lomba, H. Hasbi menuntaskan tulisannya.

"Saya hanya ingin membiasakan diri menulis. Yang terpenting adalah berpartisipasi," ujarnya.

Tidak disangka, hasil tulisannya mendapatkan apresiasi karena relevan dengan kondisi yang kekinian dan penuh dengan kebaruan dalam pendekatan.

Menjadikan Khutbah sebagai Wahana Pencerahan

Baginya, khutbah jumat mestinyatak sekedar ritual, tetapi sumber pencerahan yang terdapat pada mimbar di hari-hari tertentu saja. Ia menekankan agar materi yang disampaikan juga harus relevan dengan problematika masyarakat, entrepreneurship, kesejahteraan petani, serta bahaya narkoba.

"Sudah waktunya khutbah di lingkungan NU Pragaan, dibuat menarik dan menyentuh persoalan-persoalan masyarakat," tegasnya.

Materi-materi khutbah yang diambil tentang pentingnya menjaga lingkungan mulai dari rumah. Ia mengingatkan bahwa persoalan dengan lingkungan seringkali bermula dari kebiasaan kecil yang terabaikan, ia menggambarkan bagaimana pencemaran air, tanah dan udara yang berpotensi merusak keseimbangan alam jika itu terus dibiarkan.

Membangun Budaya Literasi di NU

Selain hanya sekedar menulis khutbah, H. Hasbi memandang perlunya penekanan budaya literasi di lingkungan NU. Menurutnya, MWCNU Pragaan juga harus mampu mewadahi kader dalam berbagai bidang, termasuk literasi keagamaan.

"Banyak kader NU potensial yang belum tergarap dengan baik. Kita perlu memberikan ruang bagi generasi muda untuk tampil dengan pemikiran progresif dan dinamis," katanya.

Sedikit mengkritisi, H. Hasbi mengatakan bahwa musholla dan masjid masih minim investasi dalam bidang ilmu pengetahuan, berbeda dengan kondisi fisik kemegahannya.

"Kita sering berinvestasi dalam kemilau masjid, tetapi lupa menyediakan ruang baca bagi jamaah, terutama anak muda. Kenapa tidak kita mulai menyediakan buku-buku berkualitas di masjid? Tanpa membaca, kita tidak bisa menulis. Tanpa menulis, ilmu sulit diwariskan," ungkapnya.

Menutup ungkapannya, H. Hasbi berharap agar NU, utamanya di Pragaan menyediakan perpustakaan representatif bagi kader-kadernya, hingga ke tingkat ranting dan masjid.

"Menulis adalah cara kita mengabadikan ilmu. Membaca membuka jendela dunia, dan menulis membuat kita dikenal dunia," pungkasnya. (zfn)

Gus Ain
Gus Ain Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad. - Abu Hamid Al Ghazali

Posting Komentar untuk "Dr. Muhammad Hasbi, M.Pd. : Dakwah Lewat Kata, Merawat Bumi dengan Khutbah "